BANDA ACEH, 24 MEI 2026 – Pada Minggu pagi ini dalam kegiatan Car Free Day (CFD). Lebih dari sekadar ruang bebas kendaraan, edisi kali ini menghadirkan rangkaian acara yang istimewa: mulai dari gerakan hidup sehat, pameran karya anak muda, hingga momen bersejarah peluncuran gerakan SEHATI 2026, menandai langkah nyata menuju Banda Aceh yang bersih dan bebas dari bahaya tembakau.
Mentari baru saja menampakkan diri pagi itu, suasana sudah ramai. Di salah satu titik utama, ribuan warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua, berkumpul penuh semangat mengikuti Senam Jantung Sehat yang dipandu langsung oleh tim YJI Aceh. Gerakan serentak, irama musik yang menggembirakan, dan tawa peserta menyatu, menciptakan energi positif yang menyebar ke seluruh penjuru lokasi. Kegiatan ini bukan hanya olahraga, melainkan ajang kebersamaan warga dalam menjaga kesehatan fisik sebagai pondasi kehidupan yang lebih baik.
Tak jauh dari area senam, deretan stan berwarna-warni menarik perhatian pengunjung. Ini adalah ruang bagi para UMKM Muda Kota Banda Aceh, wadah di mana para usahawan muda menampilkan hasil karya, kreativitas, dan produk unggulan mereka. Mulai dari kuliner khas Aceh yang dikemas modern, kerajinan tangan, hingga produk jasa kreatif, semuanya tersaji di sini. Di stan ini, terlihat jelas semangat kemandirian dan keberanian generasi muda untuk berusaha dan berkarya, membuktikan bahwa ekonomi kreatif kota ini tumbuh semakin kuat dan inovatif.
Puncak kemeriahan dan makna mendalam acara pagi ini adalah peluncuran resmi gerakan SEHATI: Selebrasi Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026, sebuah kolaborasi kuat yang digagas oleh The Aceh Institute, bersama berbagai Organisasi Masyarakat Sipil (CSO), dan Pemerintah Kota Banda Aceh. Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh setiap 31 Mei, dengan tujuan mendorong gerakan kolektif pengendalian produk tembakau serta melindungi generasi muda dari bahaya paparan asap rokok.
Gerakan SEHATI 2026 melibatkan berbagai mitra strategis, antara lain Youth Action on Tactical Transformation (YATTA), Urban Sustainability Policy Institute (UPSI), Center for Indonesian Medical Student Activities Universitas Syiah Kuala (CIMSA USK), Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN A), serta Laboratorium IAN UIN Ar-Raniry. Kehadiran lintas organisasi ini menunjukkan betapa kuatnya tekad masyarakat Aceh dalam mengangkat isu kesehatan publik ini.
Acara Gerakan SEHATI 2026 dibuka secara resmi oleh Wali Kota Banda Aceh yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Banda Aceh, Said Fauzan S., STP, M.A.,yang didampingi Kadis Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh berserta Para Kabidnya. Dalam sambutannya, Beliau menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan sadar bersama.
“Hari Tanpa Tembakau Sedunia bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momentum mengingatkan kita bahwa ancaman rokok terhadap kesehatan masih sangat besar. Ini bukan lagi soal kebiasaan pribadi, tapi tantangan sosial yang butuh perhatian bersama. Pemkot terus memperkuat Kawasan Tanpa Rokok (KTR), namun ingatlah: KTR bukan sekadar larangan, melainkan bentuk penghormatan atas hak masyarakat untuk bernapas udara bersih dan hidup di lingkungan sehat,” ujar Said Fauzan di hadapan ribuan warga yang hadir.
Disela-sela acara pihak The Aceh Institute, sekaligus selaku Ketua YATTA, Mhd. Hafiz Daniel, menekankan makna di balik nama SEHATI. Menurutnya, gerakan ini adalah deklarasi tanggung jawab bersama, bukan kerja sendiri-sendiri.
“SEHATI adalah bukti komitmen semua elemen masyarakat bergabung mengawal kebijakan pengendalian tembakau di Aceh, khususnya Banda Aceh. Tidak ada yang bisa bekerja sendiri di gerakan mulia ini. Kita harus sehati dan seirama demi kesehatan kita semua, terlebih di ruang publik yang kita nikmati bersama,” tegas Hafiz Daniel.
Selain seremoni Sehati 2026, warga yang hadir pun dimanjakan dengan berbagai kegiatan interaktif dan edukatif. Mulai dari penyuluhan kesehatan, kampanye kreatif yang digagas mahasiswa dan pemuda, hingga pameran informasi mengenai dampak buruk rokok bagi anak dan remaja. Bahkan, warga berkesempatan melakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis yang diselenggarakan oleh tim CIMSA USK bersama Puskesmas Lueng Bata Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh.
Melalui SEHATI 2026, The Aceh Institute dan seluruh mitra menyampaikan harapan besar agar Banda Aceh semakin kokoh berkomitmen sebagai kota layak anak, yang serius membatasi akses dan paparan produk tembakau bagi generasi muda. Kolaborasi ini menegaskan janji untuk terus hadir, bersuara, dan bergerak bersama masyarakat, demi mewujudkan Aceh yang lebih sehat, bebas dari cengkeraman industri tembakau, dan ramah bagi tumbuh kembang anak cucu bangsa.
Akhirnya harapan kita semua, kegiatan CFD bukan hanya menjadi tempat berolahraga atau berbelanja, tetapi lebih jauh berubah menjadi panggung kesadaran: bahwa Banda Aceh bertekad menjadi kota yang tidak hanya maju, tapi juga sehat, bersih, dan penuh kasih sayang bagi seluruh warganya. TS(Didpora Bna)